Tampilkan postingan dengan label teknikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknikal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2019

Sang Boy Bands (Bollingger Bands)

Bollinger Bands

Apa yang pertama kali terlintas di benak kawan-kawan semua ketika mendengar kata Bands mungkin sebagian dari kalian mengira nama sebuah anggota bands yang terkenal di luaran sana, ya itu tidak masalah karena saya sendiri Bollinger Bands itu sebuah grup musik yang ngetop dan ternyata sebuah
Indikator Forex untuk mengukur Volatilitas.


Satu lagi indikator Bisnis Forex yang cukup dapat diandalkan ketika trading adalah Bollinger Bands.Indikator Bollinger bands mengukur volatilitas suatu harga. Bollinger bands juga dapat digunakan untuk membaca pasar,mengetahui kekuatan sebuah trend dan untuk menentukan waktu beli dan jual. Bollinger bands merupakan indikator yang cukup dinamis artinya indikator ini dapat merespon perubahan pergerakan harga.dengan cepat.

Bollinger Bands merupakan indikator yang menyerupai price channel yang terdiri dari 3 buah garis yaitu dua garis luar (upper band dan lower band) yang berada pada standar deviasi tertentu dan garis tengah yang  merupakan garis moving average.

Settingan standar indikator Bollinger Bands untuk dua garis luar (upper band dan lower band) adalah 2 standar deviasi.Dan untuk garis tengah adalah moving average (MA) dengan periode 20.
Bollinger bands akan melebar saat harga bergerak fluktuatif serta trend yang kuat,dan akan
 menyempit ketika harga bergerak sideways terkonsolidasi dan low momentum trend.

Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui ketika akan menggunakan indikator Bollinger Bands untuk menganalisa pergerakan harga yaitu:

  • Ketika trend cukup kuat,harga akan selalu dekat dengan outter band.Ketika uptrend harga akan berada di dekat upper band.Sementara ketika downtrend harga akan selalu berada di dekat lower band.
  • Pada saat bollinger bands menyempit artinya harga sedang memasuki fase ketidakpastian,sebaiknya Anda jangan masuk dulu.
  • Jika harga bergerak mulai menjauh dari outter band itu mengindikasikan bahwa momentum trend-nya sudah mulai melemah.
  • Jika harga berhasil menembus moving average (garis tengah) biasanya itu mengindikasikan bahwa trend telah berakhir dan akan terbentuk trend baru.
Gambar di bawah ini akan menunjukkan kepada Anda betapa banyak informasi yang dapat diberikan indikator Bollinger Bands.


Penjelasan gambar:
1. Harga bergerak turun dan harga menyentuh dengan lower band yang merupakan ciri strong bearish.Terlihat beberapa kali terjadi perlawanan dari trader pembeli mencoba mengangkat harga (muncul candlestick warna hijau) tetapi trader penjual masih memegang kendali dengan menekan harga jatuh.

2. Di area ini harga menyentuh lower band.Ini mengindikaskan bahwa momentum downtrend sudah mulai melemah.Ini diperkuat dengan munculnya bullish candlestick yang menembus garis MA 20 ke atas.

3. Setelah harga menembus MA 20 ke atas terjadi reversal trend menjadi uptrend. Anda bisa melihat ketika uptrend harga dekat dengan upper band.

4. Di area ini momentum uptrendnya mulai melemah. Hal ini tergambar dengan jelas dari swing highs (higher highs) yang tidak mampu menyentuh upper band.Artinya minat beli tidak cukup besar untuk mengangkat harga lebih tinggi.Terjadi reversal ketika bearish candlestick muncul memotong MA 20 ke bawah.

5. Pertama strong downtrend terjadi dan harga terlihat jelas menyentuh lower band.Tetapi kemudian harga mulai menjauh dari lower band.Dan sekalipun bearish candlestick muncul (warna merah panjang),candlestick tersebut masih tetap tidak menyentuh lower band.Ini mengindikasikan bahwa momentum downtrend telah melemah.

6. Ketika harga menembus MA 20 ke atas maka terjadi reversal,trend berubah menjadi uptrend.Trader pembeli mengambil alih trend. Anda bisa melihat terjadi strong uptrend dengan memperhatikan bahwa harga menyentuh upper band. Tetapi kemudian momentumnya kembali melemah. Terlihat beberapa kali swing highs (higher highs) gagal menyentuh upper band.
7. Kehilangan momentum bisa mengakibatkan terjadinya sideways.Harga bergerak datar dalam ruang yang sempit.

Seperti yang Anda lihat Bollinger Bands adalah indikator multi fungsi. Dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan sebuah trend,keseimbangan antara trader pembeli dan penjual,dan untuk mengetahui potensi terjadinya pembalikan arah.

Tetapi tentu saja,indikator ini akan sangat powerfull jika digabungkan dengan analisis teknikal lainnya seperti RSI dan price action (chart patterns dan candlestick patterns).


Read more ...

Selasa, 23 April 2019

Analisa Teknikal

Dalam Bisnis online Forex Trading Ada dua cara utama yang biasa digunakan untuk menganalisa instrumen finansial dalam membuat keputusan investasi: analisis fundamental dan analisis teknikal.



Analisis fundamental digunakan untuk menganalisa laporan keuangan sebuah perusahaan untuk mengetahui seberapa sehat sebuah perusahaan dan untuk mengetahui valuasi harga yang layak bagi saham perusahaan tersebut,apakah sahamnya terlalu “mahal” (overvalued) atau terlalu “murah” (undervalued). Biasanya yang menggunakan analisis fundamental adalah investor jangka panjang.

Sementara analisis teknikal adalah sebuah teknik menganalisa pergerakan harga saham dalam waktu rentang tertentu dan mengasumsikan bahwa harga saham telah merefleksikan semua informasi tentang perusahaan tersebut.

Asumsi lain yang digunakan dalam analisis teknikal adalah bahwa harga bergerak dalam kecenderungan trend tertentu baik uptrend,downtrend maupun sideways. Oleh karena itu analisis teknikal berfokus pada penggunaan grafik harga saham dan bertujuan untuk mengetahui apakah suatu harga saham itu “jenuh beli” (overbought) atau sudah “jenuh jual” (oversold).
Sebagai trader jangka pendek sebaiknya Anda menguasai analisis teknikal.

Analisis teknikal berfungsi sebagai panduan bagi Anda ketika trading untuk mengambil keputusan jual atau beli. Hampir semua sistem trading dibuat berdasarkan analisis teknikal. Di artikel lain Anda akan belajar membuat sistem trading Anda sendiri.
Analisis teknikal tidak bertujuan untuk memprediksi harga di masa depan.

Di sinilah banyak sekali trader yang keliru dalam menggunakan analisis teknikal,sehingga selalu merugi di pasar saham karena tidak menggunakannya dengan benar.
Analisis teknikal hanya mempelajari pola pergerakan harga di masa lalu dan diasumsikan bahwa ADA KEMUNGKINAN pola tersebut akan terulang kembali di masa yang akan datang
Berapa persenkah kemungkinan tersebut? Beberapa studi menyatakan bahwa tingkat keakuratan analisis teknikal sekitar 40% – 60%.

Beberapa cakupan analisis teknikal yang akan dibahas pada blog ellangtarderblogsport.com ini adalah:
Salah satu kelebihan analisis teknikal adalah ketika Anda mampu membaca pergerakan harga di suatu pasar finansial menggunakan analisis teknikal, maka Anda bisa membaca pergerakan harga di pasar finansial yang lain.

Seperti halnya saya menggunakan analisis teknikal untuk bertransaksi saham. Analisis teknikal yang sama dapat digunakan untuk bertransaksi di forex market, futures market dan commodity market. Bahkan kita juga dapat membaca pergerakan harga indeks regional.
Intinya ketika kita menguasai analisis teknikal, kita mampu membaca pergerakan harga di pasar finansial manapun!

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, untuk sukses sebagai trader Anda harus mampu menggunakan analisis teknikal dengan benar ketika trading.
Tujuannya agar peluang Anda berhasil di pasar saham lebih besar ketimbang sekedar menggunakan tebak-tebakan buah manggis.

Dan untuk masing-masing bagian dari cakupan analisis teknikal di atas, akan saya jelaskan dengan sangat lengkap pada artikel yang terpisah untuk memperdalam pemahaman Anda.
Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang analisis teknikal maka Anda sudah memiliki modal yang cukup penting untuk membuat sistem trading Anda sendiri.

Tanpa memahami analisis teknikal sulit untuk membuat sistem trading yang akan Anda jadikan sebagai petunjuk jual beli ketika bertransaksi
nantinya.
Read more ...

Senin, 22 April 2019

Cara Menggunakan Indikator RSI

Bagimana cara menggunakan Indikator yang menurut saya simple dan mudah di terapkan di semua pasangan mata uang dalam perdagangan forex. Rata-rata dari trader hanya menggunakan indikator RSI sebagai pemantau kondisi jenuh pada pasar. Simak berbagai fungsi lain RSI pada artikel berikut.


Para pengagum RSI selalu membayangkan betapa mudahnya memakai Indikator tersebut. Betapa tidak, RSI selalu dikaitkan tentang pola harga jenuh dan gambaran harga yang bisa dilihat sebagai batas Low atau High pada saat tren berlangsung. Namun benarkah menggunakan indikator RSI bisa begitu mudah?

Relative Strength Index (RSI) pertama kali diperkenalkan oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978 dalam bukunya yang berjudul "New Concepts in Technical Trading Systems". Indikator RSI kemudian dikenal sebagai sebuah indikator Oscillator dengan level dari 0 hingga 100.

Periode Indikator RSI yang dijadikan standar oleh Wilder adalah 14. Namun periode tersebut dapat diganti menjadi lebih kecil maupun besar, sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing trader. Kebanyakan trader hanya menggunakan RSI seperti layaknya indikator Oscillator lainnya: hanya untuk melihat sinyal Overbought maupun Oversold. Namun ternyata, Indikator RSI bisa digunakan untuk lebih dari sekedar itu. Nah, sebelum masuk ke uraian lebih lanjut tentang berbagai cara menggunakan indikator RSI, mari belajar cara menghitungnya terlebih dahulu.


Menghitung Nilai RSI

Dalam menghitung nilai indikator RSI, terdapat beberapa komponen yang harus dihitung terlebih dahulu. Komponen tersebut adalah RS, Rata-rata peningkatan, dan Rata-rata penurunan. Jika menggunakan periode standar dari Wilder, maka rumus menghitungnya adalah:


Menggunakan Indikator RSI Untuk Menentukan Level Jenuh Pasar


 

Seperti halnya minyak, harga suatu aset juga memiliki titik jenuh, baik karena sudah terlalu lama naik (Overbought) maupun turun (Oversold). Dalam menentukan level titik jenuh ini, biasanya ditetapkan sebuah level tertentu dari indikator yang dapat mewakili kejenuhannya.

Kejenuhan pasar ini juga dapat diukur dengan menggunakan indikator RSI. Umumnya, level 70 dan 30 digunakan sebagai batasan, yang berarti jika nilai indikator RSI berada di atas 70, maka harga telah Overbought. Sedangkan jika nilai indikator RSI berada di bawah 30, maka harga telah Oversold. Beberapa orang juga sering menggunakan level 80 dan 20 sebagai standar, jadi acuan ini tidaklah bersifat baku.

 Pada contoh di atas telah digambarkan kedua keadaan secara umum, yaitu Overbought pada nilai indikator RSI di atas 70, dan Oversold saat nilai indikator RSI di bawah 30. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua Overbought dan Oversold akan berujung pada pembalikan panjang seperti yang dicontohkan ini. Lebih sering, harga akan terus melanjutkan perjalanannya naik maupun turun karena tren masih kuat berlangsung. Agar tidak terjebak sinyal palsu, disarankan untuk menggabungkan RSI dengan indikator teknikal lain.

Para trader sering menggunakan indikator RSI sebagai bantuan dalam pengambilan keputusan trading. Salah satu contoh yang sering digunakan adalah gabungan Bollinger Bands dan RSI. Bahkan ada beberapa trader yang tak segan-segan hanya menggunakan RSI sebagai indikator utamanya. Mari simak chart di bawah ini sebagai contoh.

Menggunakan RSI Untuk Menentukan Tren

Selain melihat tingkat kejenuhan pasar, trader juga sering menggunakan indikator RSI untuk melihat kapan tren akan berubah. Awal perubahan ini bisa dideteksi dengan melihat penembusan-penembusan pada level tertentu di pasar.

 Dalam melihat atau menentukan tren, trader biasanya menggunakan Moving Average maupun Channel. Namun, tidak hanya kedua indikator teknikal tersebut yang dapat dijadikan acuan. RSI punya caranya sendiri dalam menentukan tren. Dalam menentukan tren melalui RSI, dibutuhkan level 50 sebagai pembatas. Jika sinyal RSI berada di atas 50 maka tren sedang naik, sedangkan jika di bawah 50 maka tren sedang turun.


Selain untuk menentukan tren, level 50 ini juga bisa menjadi tanda awal perubahan tren. Hal ini bisa ditandai dengan penembusan level 50. Crossing ini juga biasa dikenal dengan The Centerline Crossover, atau penembusan garis tengah dengan sinyal RSI.


Indikator RSI Sebagai Pembaca Divergence

 

RSI adalah indikator Favorit para trader khususnya para trader yang baru belajar trading forex. Sama seperti indikator Stochastics dan MACD, RSI juga dapat digunakan untuk membaca divergence yang sedang terjadi di pasar. Menurut Wilder, sinyal divergence bisa menjadi titik reversal dalam sebuah tren. Hal ini dimungkinkan terjadi karena harga sudah tidak memiliki kekuatan lagi dalam melanjutkan perjalanannya.

Sebuah sinyal bullish divergence terjadi saat harga pada chart terlihat membentuk lower low, tapi sinyal RSI-nya justru membentuk higher low. Sedangkan untuk sinyal bearish divergence terjadi saat harga pada chart terlihat membentuk higher high, tetapi sinyal RSI-nya justru membentuk lower high. Untuk lebih jelasnya simak contoh berikut ini:


Cara Menggunakan Indikator RSI Dengan Support Resistance

Selain beberapa cara di atas, RSI juga dapat digunakan layaknya trading dengan naked chart. Jadi, trading hanya menggunakan indikator RSI serta garis Support Resistance saja. Garis-garis Resistance dapat dibentuk dengan beberapa titik hasil dari percobaan gagal harga untuk. Untuk garis support, dapat dibentuk dengan beberapa titik hasil dari percobaan gagal harga untuk turun.





Read more ...